Kamis, 23 Juni 2016

ASYIKNYA IKUT MENTORING

0


Satria Hadi Lubis, MM.MBA

Konsultan Manajemen Kehidupan & Penulis Buku-buku Tarbiyah



Faiz yang belum lama menyelesaikan kuliahnya sedang termenung memikirkan kelanjutan hidupnya untuk bekerja hingga suatu ketika datang kawan lamanya menawarkan sebuah posisi diperusahaannya. Faiz agak terkejut akan penawaran tersebut dan bertanya pada kawannya, “Kenapa Saya? “ teman itu pun menjawab, “ Karena saya yakin kamu orangnya baik, jujur dan pintar, saya yakin itu, karena dulu sewaktu kuliah kamu ‘kan ikut kegiatan mentoring.”

Mentoring? Ya mentoring adalah kegiatan bersama yang dilakukan untuk membina kualitas hidup seseorang. Mengikuti mentoring ternyata mengasyikkan. Cerita diatas merupakan sekelumit gambaran sebuah manfaat seseorang mengikuti mentoring. Dan ternyata banyak sekali manfaatnya bila kita ikut mentoring.


 1. Punya banyak teman,

Dengan ikut mentoring kita jadi punya banyak teman dan lebih hebatnya lagi kita tidak keliru memilih lingkungan pergaulan. Karena gaul kita adalah gaul yang bersih dan lurus. Jauh dari perbuatan-perbuatan buruk apalagi sampai melanggar hukum (narkoba dan sebagainya).  Karena teman-teman kita adalah mereka yang tidak akan menjerumuskan kita pada kerusakan melainkan mereka adalah teman sejati yang mengajak dan mengingatkan kita agar selalu pada jalan kebaikan. Asyikkan?


2. Bisa jadi tempat curhat,

Di mentoring kita mendapatkan tempat curhat. Kita dapat sharing tentang berbagai permasalahan baik yang bersifat umum maupun pribadi. Sehingga akan terasa ringan rasanya beban yang ada bila telah menceritakan permasalahannya pada orang lain. Dan mereka yang berada di mentoring merupakan mereka yang dapat dipercaya untuk menyimpan permasalahan kita serta memberikan solusi-solusi pemecahannya. Asyikkan?


3.  Membentuk kepribadian yang utuh.

Alhamdulillah, kita bisa lebih mengenal karakter pribadi kita dan kita dapat membenuk kepribadian kita agar menjadi pribadi yang utuh (sholeh) dan bermanfaat bagi sesama. Dengan memahami jati diri kita sebagai hamba Allah, kita akan lebih memahami akan makna hakiki dari kehidupan ini. Peran-peran hidup yang kita jalani dan apa tujuan kita hidup dimuka bumi ini. Kata lainnya jadi sering introspeksi diri. Asyikkan?


4. Hidup makin terarah

Mengapa tidak? Setiap pekan bahkan setiap saat kita selalu mendapatkan masukan dan nasehat (kontrol) bagi setiap aktifitas kita.  Ibarat seorang pengendara yang disetiap jalan ada petunjuk lalu lintas, tentunya akan mempermudah untuk mencapai tujuan. Dan tujuan hidup kita pun jadi semakin terarah bilamana kita sering mendapatkan rambu-rambu kehidupan. Dan ini hanya kita dapat di mentoring. Intinya kita selalu mendapat kontrol baik dari diri sendiri maupun dari orang lain.  Asyikkan?


5.  Mendapat wawasan keislaman

Di dalam kegiatan mentoring, pemahaman wawasan Islam, Alhamdulillah jadi bertambah, tidak hanya tahu tentang ibadah-ibadah yang sering dilakukan seperti shalat, puasa ramadhan dan sebagainya tetapi juga mendapatkan wawasan keislaman yang integral (utuh dan menyeluruh) yang dapat menjadi pedoman dalam mengarungi hidup ini, Asyikkan?



6. Mendapatkan pahala.

So pasti, dengan ikut kegiatan mentoring berarti kita juga sedang menuntut ilmu. Dan tentunya curahan pahala dan rahmat akan selalu turun menyertai hambanya yang sedang menimba ilmu dan menambah wawasan ajaran-Nya. Pahala yang tidak pernah terputus karena salah satu amal yang pahalanya akan terus mengalir dan tidak pernah berhenti adalah ilmu yang bermanfaat. Asyikkan?

Mungkin ini hanyalah sebagian dari keasyikan-keasyikan kita dalam mengikuti mentoring. Keasyikan yang terkadang juga membuahkan hasil di masa depan, seperti kisah Faiz diatas. Atau kisah seorang ibu yang merasa bersyukur pernah aktif dikegiatan mentoring hingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis dari anaknya yang bersekolah di sebuah TK Islam. Sehingga sering kita mendengar ucapan, ”Alhamdulillah dulu saya ikut mentoring, coba kalau tidak, mungkin .... ”

Sabtu, 28 Mei 2016

Forum Rohis kedatangan tamu dari Forum Studi Islam Farmasi Poltekes Jakarta

0


Bertempat di ruangan aula masjid Al-Ghifari IPB sabtu (28/5) Forum Rohis Diploma IPB kedatangan tamu dari Forum Studi Islam (Fosti) Farmasi Politeknik Kesehatan (Poltek) Jakarta, kedatangan ini bertujuan untuk silaturahim dan juga studi banding tentang program kerja.

Ketua pelaksana Riyan Rahmat Triantoro mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk saling bertukar informasi tentang program kerja baik dari Forum Rohis maupun dari Fosti itu sendiri.

"kegiatan ini bertujuan untuk saling bertukar informasi tentang program kerja baik dari Forum Rohis maupun dari Fosti itu sendiri, terutama dari kami yaitu pada program IP Guider dan Sistem Open Recruitment", Ucap Riyan.

Ketua Fosti Rayana Jakasurya juga menambahkan, tujuan dalam studi banding yaitu, silaturahim mencari keluarga baru, untuk mencari ilmu, sharing organisasi, dan juga untuk nambah wawasan. 

"Tujuan dalam studi banding kami yaitu, silaturahim mencari keluarga baru, untuk mencari ilmu, sharing organisasi dengan kampus di luar kami, dan juga untuk nambah wawasan yang belum didapatkan di internal kampus kami.", ucapnya.

Output dari kegiatan ini yaitu untuk mengevaluasi kekurangan dan akan kita masukan dalam diskusi ini. "Setelah hasil studi banding yang dilaksanakan hari ini kami akan mengevaluasi kekurangan dari masing-masing divisi kami dan akan kita masukan dalam diskusi kami nantinya", Ucap Rayana Mahasiswa Jurusan Farmasi Poltekes Jakarta.

Ketua Forum Rohis Diploma IPB mengatakan dalam sambutannya, kami sangat berterima kasih atas kepercayaan dan pilihan dari Fosti Poltekes Jakarta yang mempercayai kami dalam hal studi banding ini.

"Kami dari Forum Rohis sangat berterima kasih atas kepercayaan dan pilihan dari Fosti Poltekes Jakarta yang mempercayai kami dalam hal studi banding yang ketiga", Ujar Andre Setiawan.

Lebih lanjut lagi Andre menambahkan, semoga kegiatan yang kita laksanakan hari ini bermanfaat bisa bagi semua dan juga kita bisa mengoptimalkan hasil diskusi hari ini untuk agenda dakwah kita kedepannya.

"Semoga kegiatan yang kita laksanakan hari ini bermanfaat bisa bagi semua dan juga kita bisa mengoptimalkan hasil diskusi hari ini untuk agenda dakwah kita kedepannya baik dari kami Forum Rohis maupun dari Fosti sendiri", Ucap mahasiswa Program Keahlian Akuntansi angkatan 51.

8 Hari Lagi Menuju Ramadhan

0


"Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya'ban adalah bulan untuk mengairi, dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen" (Lathaaiful Ma'arif hal. 130).

Facebook : Rohis Diploma IPB
Instagram : @fr_diplomaipb
Email : forum.rohis@gmail.com

Rabu, 25 Mei 2016

Ini Manfaat Jadi Penulis yang Wajib Kamu Ketahui

0


Menjadi seorang penulis itu menyenangkan. Ada banyak yang bisa kita dapatkan ketika memutuskan menjadi seorang penulis. Baik yang kita tekuni atau sambilan.
Menulis tidak akan menggangu kegiatan utama, sebab masih bisa dijadikan hobby yang kapan saja bisa kita lakukan. Memang ada yang memakai waktu khusus saat menulis, ada juga yang tidak. Keduanya sama saja. Sama-sama bisa memberi manfaat melalui tulisannya.
Nah, biar kita semakin pede, yuk kita bahas 5 manfaat menjadi seorang penulis :
1. Ilmunya bermanfaat.
Pramoedya pernah berkata bahwa, “Sepintar-pintarnya seseorang, jika dia tidak menulis, maka ilmunya akan tenggelam bersama kehidupannya”. Sementara Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda bahwa 3 amalan yang tidak akan terputus ketika seorang manusia mati, salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Nah, Imam As Suyuthi menafsirkan ilmu yang bermanfaat dalam kitab adab at ta’lif adalah menulis. Jadi bisa disimpulkan bahwa dengan menulis, kita bisa memberikan sumbangsih kebaikan berupa ilmu yang bermanfaat. Jangan asal menulis ya, menulislah yang bermanfaat dalam kebaikan. So, jika menyampaikan suatu ilmu bisa dengan menulis, yuk kita menulis.
2. Mewarisi Pahala Tak Terputus
Tentunya kita semua pasti mati. Ada orang yang begitu dia mati, tidak bisa membawa banyak perubahan apa-apa bagi orang yang ditinggalkannya. Namun ada juga seseorang yang meskipun sudah meninggal, namanya masih harum dikenal.
Contohnya, Buya Hamka, siapa sih yang nggak kenal beliau, nah beliau dikenal terus karena karyanya lho. Jadi, jangan ragu deh buat menulis. Jika kelak kita mati, minimal kita sudah menyumbangkan satu buku atau ilmu buat generasi mendatang ya.
3. Pekerjaan yang menyenangkan
Menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan. Sebab menulis bisa dilakukan sambilan, atau  secara fokus. Contoh, Bang Tere Liye, tetap menulis walaupun ngantor. Kalau Mas Brilli, menulis sudah menjadi kefokusan. Jadi, menulis bisa difokuskan atau sambilan. Enak kan?
4. Semakin Pintar Dengan Menjadi Penulis
Yayayaya, saya berani mengatakan kalau penulis itu pintar. Kenapa? Sebab pastinya dia akan lebih banyak membaca donk. Membaca menjadi agenda wajib bagi seorang penulis. Nah, sudah pasti tuh, penulis mah rajin baca.
Sekalipun dia jarang baca, minimal dia peka terhadap hal hal kecil di kehidupannya.
5. Menginspirasi Orang Lain
Yups, dengan menulis kita bisa lebih banyak menebarkan inspirasi, manfaat sekalipun kepada orang yang belum pernah kita kenal. Dengan menulis, kita bisa menyapa orang lain tanpa harus bertemu.
Dan masih banyak lagi manfaat menjadi penulis yang tidak saya jelaskan. Eniwey, tetaplah menulis dalam hidupmu.
Alhamdulilah, sampai saat ini dua buku sudah saya hasilkan dan terbit. Kedua buku saya bisa pembaca temukan di gramedia terdekat ya ^^
Yaitu Buku "Yuk Gaul dan Belajar Bisnis Ala Rasulullah Selagi Mahasiswa Why Not ?!"

Jangan Jadi Manusia Gampangan, Jadilah Manusia Limited Edition

0

Pernahkah Anda marah? Pernahkah Anda sedih? Pernahkah Anda malas? Pernahkah Anda mengeluh? Pernahkan Anda mudah curiga? Pernahkah Anda mudah menyesal?

Pernahkah Anda pesimis dengan kemampuan diri sendiri? Pernahkah Anda melupakan Allah? Pernahkah hati Anda terasa mati? Dan terakhir, pernahkah Anda mudah terbawa arus?

Sepuluh pertanyaan diatas layaknya kita tanyakan kepada diri sendiri, bukan orang lain. Sebab yang bisa menjawab pertanyaan itu secara jujur adalah diri kita sendiri. Coba kita ingat-ingat, mungkin semua pertanyaan diatas atau sebagiannya pernah kita lakukan. Ada yang melakukan semuanya atas dasar positif, sebaliknya. Contoh yang baik misalnya, ia marah karena kehormatan agamanya diinjak-injak, dihinakan dan dipermalukan. Ia marah karena agamanya yang mulia itu dihinakan.

Contoh marah karena agamanya dihina-hina hanyalah satu dari sebagian contoh sikap yang terbilang negatif tetapi sejatinya bisa dimanfaatkan menjadi sumber kekuatan postifik dalam hidup kita. Sayangnya yang bisa melakukannya hanya sedikit, tidak banyak. Jujur, saya merenungi diri saya sendiri yang masih mencoba menjadi sosok yang dirindukan surga.

Tidak banyak yang mampu menahan diri dari sepuluh sifat yang saya sebutkan diawal. Hati manusia mudah sekali terombang ambing. Kadang hati kita sedang baik maka baiklah semuanya dan begitupun sebaliknya.

Lantas bagaimana agar kita bisa terhindar dari sepuluh sifat diatas?

Boleh jadi buku “Jangan Jadi Manusia Gampangan, Jadilah Manusia Limited Edition” karya Silmy Kaffah Rohayna lah jawabannya. Seperti yang saya rasakan, membaca buku ini sama halnya dengan bercermin pada diri sendiri. Pembahasannya sederhana, tapi mengena dan menyentuh hati. Rasa-rasanya, tulisan ini secara halus masuk ke dalam relung hati, dan tanpa terasa mengajak pembaca mengikuti setiap gagasannya.

Buku ini membetot dan mengingatkan akan kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan di masa lampau. Selain itu, buku ini menawarkan pandangan baru, cara penyelesaian dan membuat hati terasa “lega” atas sepuluh pertanyaan diatas. Sungguh tidak mudah menyelesaikan sepuluh masalah diatas, akan tetapi melalui buku ini Silmy ingin mengajak pembacanya untuk menyelesaikan sepuluh masalah diatas dengan mudah dan indah. 

Sebagai penutup dari review buku ini, menurut saya yang paling mengesankan dari buku ini adalah kita akan dibawa pada satu pemahaman yang indah, yaitu bagaimana agar surga merindukan kita (limited edition).

Penasaran dengan bukunya? Anda bisa mendapatkannya DISINI

Menjawab Masalah dengan Hamdallah

0


“Jika sabar dan syukur adalah dua kendaraan, aku tak peduli harus naik yang mana.”

(Umar ibn Khattab)



Allah menjanjikan pada semua hamba-Nya, bahwa Dia akan membersamai setiap penyabar dan akan menambah nikmat bagi siapa saja yang bersyukur. Singkat kata, keduanya memiliki muatan yang sama, yaitu muatan kebaikan. Seorang kawan pernah bertanya, “Saya harus bagaimana dengan amanah ini? Bersabar? Atau bersyukur atasnya?” Sayangnya, saat itu saya belum tau pilihan mana yang terbaik bagi kawan saya tersebut. Namun kali ini, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan itu dengan hikmah. Sabar atau syukur, lakukan saja yang kita anggap lebih mudah untuk melakukannya. Tak perlu diperbingungkan mana yang lebih baik diantara keduanya. Karena keduanya sama-sama penuh dengan kebaikan. Namun pada tulisan ini saya akan mencoba berbagi lebih banyak mengenai syukur. Sebab ternyata masalah yang kita dapatkan bisa dihadapi bukan hanya dengan sabar, melainkan juga syukur.

Mari kita melihat lebih dekat dan mengenal lebih jauh tentang syukur. Jika kita memperhatikan, ada banyak sekali bentuk kenikmatan di sekitar kita. Mendapat kemudahan lulus tes perguruan tinggi, memperoleh rezeki tak terduga, mendapat nilai sempurna di ujian, dan masih banyak lagi telah menjadi bagian dari kenikmatan yang sudah seharusnya kita syukuri. Tetapi bagaimana bila hal-hal yang terjadi justru kebalikannya? Tidak lulus tes perguruan tinggi, gaji dua bulan kerja tak kunjung turun, dan nilai ujian jauh dari harapan meskipun sudah berusaha keras dalam belajar. Lalu apa yang akan kita lakukan? Berkeluh kesah? Ya, pada akhirnya tidak sedikit dari kita yang jatuh mengeluh, yang merupakan sifat dasar dari manusia, dan terpuruk dalam kegagalannya.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma‘arij: 19)

Padahal dalam menghadapi setiap kegagalan, rasa sedih, dan rasa kecewa, kita masih memiliki pilihan lain, yaitu bersyukur. Bersyukur atas masalah? Ya, kenapa tidak? Mari kita kembali mengingat kisah ketika Fir‘aun mengejar Nabi Musa dan pengikut-pengikutnya hingga ke tepi Laut Merah. Saat itu Nabi Musa dan pengikutnya dihadapkan pada lautan luas yang tak mungkin dilewati, sedangkan dari belakang pasukan musuh kian dekat. Takut. Perasaan tersebut seakan menular dari satu pengikut ke pengikut lainnya. Lalu saat itu lah, Nabi Musa memanjatkan doanya kepada Allah.

“Allahumma lakal hamdu… ya Allah, segala puji bagi-Mu.”

Begitulah Nabi Musa memuji Allah. Nabi Musa justru bersyukur saat masalah sedang berada pada puncaknya. Dengan kepasrahan hati yang luar biasa, Nabi Musa berhamdallah dan mempercayakan semuanya kepada Allah SWT. Maka di titik ini lah kita dapat menyaksikan kebesaran Sang Maha Rahman. Ketika Nabi Musa bersyukur karena telah mampu berlari jauh untuk menghindari kejaran musuh, di situ lah Allah menambahkan nikmat lainnya kepada Nabi Musa berupa jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapinya. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7). Maka terbelah lah laut merah atas izin Allah, sehingga Nabi Musa dan pengikutnya dapat meloloskan diri dari kejaran Fir‘aun dan pasukannya. Hingga sekarang, kalimat hamdallah ini terus turun dari satu nabi ke nabi selanjutnya. Bahkan sampai kepada Nabi Muhammad SAW dan akhirnya kita sebagai umatnya.

Bagaimana dengan kasus sehari-hari yang sering kita hadapi? Mari kita coba mengambil contoh. Seseorang yang selalu mendapatkan nilai baik, bahkan cenderung sempurna, yaitu mendapat nilai mutu A atau AB, tiba-tiba pada satu mata kuliah mendapat nilai C. Maka tanpa kemampuan memuji Allah dan berpikir positif, akan cenderung sulit melihat nikmat berupa nilai baik yang telah didapatkan sebelum-sebelumnya. Tanpa kemampuan bersyukur kepada Allah SWT, satu nilai C dapat menyebabkan semua nilai A atau AB yang pernah didapatkan seakan tidak menyisakan kebahagiaan. Menurut Ustadz Yusuf Mansur, di antara sebab tidak mampu melihat karunia yang Allah berikan kepada kita, bukan hanya karena pikiran yang membentuk, tapi juga karena Allah dilupakan dan cenderung dikeluhi seolah tak ada kebaikan Allah. Na‘udzubillahi min dzalik.

Oleh karena itu yang perlu kita lakukan adalah melihat dari kerangka yang lebih luas. Melihat keseluruhan nikmat yang sudah kita dapatkan. Tak mungkin tidak ada sedikit pun kebaikan di sana. Sebab perbuatan mengeluh hanya akan menggugurkan syukur kita yang artinya kita lupa bahwa setiap ketentuan datangnya dari Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hal ini juga dapat menjadi ujian hidup bagi kita, karena sesungguhnya Allah mungkin merindukan syukur kita dan ingin melihat sejauh mana kita dapat bersyukur atas ketentuan yang diberikan-Nya.

Selain itu, salah satu alasan penting mengapa kita harus bersyukur dapat dijelaskan secara ilmiah. Siap-siap menyimak ya. Bersyukur akan memperkecil rasa sakit pada tubuh kita. Bapak Berry Juliandi, seorang dosen ahli dalam bidang Neuroscience, menceritakan pada salah satu tulisannya yang berjudul “Keuntungan Bersyukur”, bahwa secara sederhana, perasaan bersyukur akan menstimulasi hipotalamus dan hipofisis pada otak untuk menghasilkan hormon endorphin. Hormon endorphin adalah hormon yang apabila semakin meningkat jumlahnya akan mengurangi rasa sakit pada diri seseorang. Endorphin dapat mencegah pengeluaran neurotransmitter dari suatu sel saraf, sehingga walaupun sel saraf pengindera rasa sakit terangsang dan hendak meneruskan rangsangan ke otak, dengan adanya endorphin, penerusan ini tidak akan terjadi atau dicegah pada sinapsis tertentu. Sehingga otak tidak akan pernah tahu bahwa ada bagian tubuh yang tersakiti, karena laporan rasa sakit itu tidak pernah sampai ke otak.

Maka sekalipun itu adalah sebuah masalah yang sulit, belajar bersyukur atasnya bukanlah hal yang mustahil. Mari membuka mata hati dan melihat setiap kesulitan yang kita hadapi dari sudut pandang yang lebih luas, sehingga kebaikan Allah di setiap permasalahan dapat kita lihat dan kita ambil hikmahnya. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur. Aamiin.

Masalah? Alhamdulillah dulu aja.

(Ayuning Tyas/SFK)


Rabu, 18 Mei 2016

Siapa Bilang Mencari Ide Menulis Itu Sulit?

0

Sebagai seorang calon penulis yang ingin terjun di dunia kepenulisan, sebagian besar masalah-masalah yang dihadapi adalah seputar menggali ide. Bahkan dalam beberapa acara bedah buku, seminar kepenulisan, yang sering ditanyakan kepada narasumber adalah bagaimana cara menggali ide?
Nah, beruntung kamu mempunyai kesempatan membaca tulisan ini. DIJAMIN kamu nggak akan banyak bertanya-tanya ulang soal menggali ide jika sudah mempraktekan hal ini. Percayalah, karena untuk mempraktekannya kamu harus yakin dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Jika tulisan ini selesai kamu baca tetapi tidak di praktekan, ilmu ini tidak akan banyak bermanfaat.
Ya, inilah waktunya membaca sambil prakek. Ingat, sambil membaca, kamu harus praktek. Okay?
1.     Open Mind
Sebelum kamu ingin sukses menggali ide tanpa berhenti, pastinya kamu ingin kan agar setiap hari bisa menulis dengan ide yang banjir di kepala? Mau kan?
Nah, sebelum ka arah iu, pertama-tama yang kamu harus lakukan adalah open mind, buka pikiran jernihmu.
Mungkin hari ini kamu sedang penat dan buntu, maka cobalah untuk membuka diri bahwa kamu me-refreshsemua pikiran yang begitu penat. Lalu tenangkan pikiranmu.
Ikuti petunjuk ini, pejamkanlah matamu. Lalu mulailah berpikir kegiatan apa yang telah kamu lewati pada hari ini. Coba telisik lebih dalam, ingat-ingat setiap potongan-potongan kehidupan yang kamu jalani hari ini atau kemarin.
Setelah selesai, coba ambil bagian yang menurutmu paling penting. Setelah mendapakannya, mulailah ikat kejadian iu, lalu renungkan, apa yang bisa kamu tulis dari kejadian penting itu.
Lakukanlah sekarang juga ….
1
2
3
4
5
6
7
Ya, kamu sudah memikirkannya sekarang. Sekarang tulislah apa kamu kamu rasakan sekarang juga. Selamat mencoba…
2.             Belajar Peka
Ini yang jarang sekali calon penulis kuasai. Peka, ya peka terhadap apa yang sebenarnya ia lewai setiap hari. Andai saja lebih peka sedikit, maka bisa ditulis dengan beberapa paragraf. Iya kan?
Namun kadang kala sebelum memulai sudah mengatakan nggak ada ide, ya pikiran kita sudah terbatas saat itu. Andai saja lebih peka sedikit. Tentu tidak akan ada keluhan menggali ide lagi.
Contohnya ya, ketika melihat daun, seorang penulis yang peka ketika melihat dan mendapatkan kata daun, bisa membuat satu cerpen, satu tulisan ataupun satu paragraf. Misalnya saja, kata daun.
“Dedaunan yang kecil dan tumbuh menghijau, mengingatkan kita saat kecil dulu. Sebelumnya kita pun pernah merasakan kecil lalu perlahan tumbuh besar. Sama halnya dengan daun.
Namun daun mengajarkan beberapa hal, bahwasanya meski ia rapuh, ia tetap berusaha bermanfaat buat batang dan akar. Tanpanya, tumbuhan akan kesulitan menangkap cahaya matahari. Daun lah yang berperan dalam menangkap cahaya matahari agar bisa berfotosintesis.
Begitu juga dengan kita, sekalipun kita rapuh, jangan pernah menyepelekan apa yang telah diberikan oleh-Nya. Jika kita mau berpikir saja, maka akan sangat potensial diri kita bermanfaat bagi orang lain. Sebab kita telah diciptakan dalam keadaan sempurna, bukan? Terima kasih daun, hari ini kau mengajarkanku pelajaran yang beharga. Terima kasih.”
Itu contoh ya. Sederhana kan? Sekarang cobalah lihat benda-benda yang ada di sekelilingmu, lalu mulailah menuliskannya. Selamat mencoba.
3.             Mengolah Kata
Sama halnya dengan pembahasan daun diatas. Ide yang mengalir pun tak akan bisa terulis tanpa kemampuan mengolah kata. Contohnya seperti daun diatas. Meski satu kata, kalau kita peka bisa dijadikan tulisan lho.
Baik kita beralih ke manusia, bagi kamu yang lebih menyukai ulisan renungan, motivasi dan artikel, cobalah tengok kondisi orang lain di sekelilingmu. Misalnya saja kamu tidak suka merokok, lalu ada seseorang yang merokok di depanmu, jadikanlah kisah itu tulisan. Ini hanya masalah mau atau tidak, ada banyak cara mengolah kata dari hal-hal sederhana yang mau kita alami.
4.             Pikirkan Passion Menulismu
Oke, open mind sudah, peka sudah dan mengolah kata sudah, tapi kok tulisannya nggak bagus ya? Itu hanya anggapan kok. Tenang…. nggak akan ada yang laporin kamu ke polisi kok kalau tulisanmu belum bagus hehehe. Namanya juga sedang belajar. Jadi ya wajar.
Dulu sewaktu saya pun sedang belajar menulis, saya pun berkali-kali salah, berkali-kali edit dan nggak lolos pada lomba cerpen. Akan tetapi, saya tidak mau menyerah begitu saja, saya terus berusaha dan berusaha melatih kemampuan saya. Hal yang lebih menariknya saya mencoba mencari passion menulis saya. Apakah saya lebih mudah menulis fiksi atau non fiksi. Jika kamu lebih suka ke salah saunya, maka untuk sementara sebagai media latihan, cobalah fokus pada satu bagian tersebut. Jangan melompat ke yang lain. Dengan begitu, latihanmu akan terus terasah tanpa merasa dibebani kesulitan memikirkan dan menuliskannya.
Itulah keempat metode yang harus kamu kuasai saat kesulitan menggali ide. Dan jangan lupa ya… langsung praktekkkk …. Selama mencoba …

Wildan Fuady (Mentor PKW Nasional)

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html