Rabu, 11 Mei 2016

7 Jurus Menulis Bagi Orang Sibuk (Malas)

0


Betapa banyak yang meninggalkan menulis karena ia begitu sibuk dengan aktifitas sekolah, kuliah maupun pekerjaan. Kesibukan yang padat, rutinitas yang mengharuskan kita mengalah untuk tidak menulis ataupun menunda untuk menulis.

Namun saya tidak bermaksud menggurui, hanya sekedar berbagi. Saya pun paham setiap orang punya kesibukan dan rutinitas yang padat hingga ia lupa untuk menulis walaupun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin sekali menulis dan mempersembahkan satu karya sebagai amal dan kenangan yang tidak akan berakhir sampai tulisan itu terus dibaca orang lain. Impian yang sangat tinggi bagi seorang penulis adalah mengalirnya pahala selama tulisannya dibaca banyak orang sekalipun ia telah meninggal dunia.
Seorang penulis amal-amalnya memang sederhana dan terbatas, hanya menulis, tapi dengan tulisannya ia mampu mengalirkan inspirasi bagi orang lain dan mengalirkan pahala secara terus menerus. Tiada habisnya pahala seorang penulis.
Menulis memang bukan pekerjaan yang mudah. Selalu saja ada halangan-halangan yang melintang di depan mata. Entah mengapa, proses menulis selalu dibubuhi dengan pernak-pernik masalah.
Namun menjadi seorang penulis tugasnya adalah mencari cara menyelesaikan dan menuntaskan masalah. Biasanya, seorang penulis lebih ceria dalam hidupnya. Meski ia sendiri tengah bersedih, tetap menjadi bahagianya. Sebab apa? Sebab ia tuangkan dalam tulisan. Uneg-unegnya tersampaikan, ilmunya tersalurkan.
Okeh…. sekarang SAYA INGIN MENULIS., tetapi saya SIBUK,  pekerjaan saya MENUMPUK, amanah saya BANYAK, saya seorang AKTIFIS kampus yang sibuk mengurus kegiatan, saya seorang GURU yang mengajar SETIAP hari, saya adalah KARYAWAN di sebuah perusahaan yang MEMILIKI banyak tuntutan pekerjaan, saya LURAH yang mengurus warga, saya CAMAT yang harus mengurus DESA, saya DOKTER yang harus mengurus PASSIEN setiap hari, saya CEO di sebuah komunitas, saya BOS di perusahaan ….
Akan tetapi …. dalam hati saya ingin sekali menjadi seorang PENULIS, saya ingin dalam hidup saya melahirkan minimal SATU buku saja. Bagaimana saya menghadapinya?
Begitulah yang pernah saya dengarkan dari teman-teman penulis. Dalam hatinya sangat ingin menghasilkan minimal satu buku yang terbit, tapi lagi-lagi kesibukan menjadi halangan.
Pernah mendengar novel Ayat-Ayat Cinta? Betapa BEST SELLER nya novel itu.
Jika pernah mengetahui atau pernah membacanya kita akan terkagum-kagum, bukan? Namun yang harus kita ketahui adalah novel itu ditulis diatas kursi roda. Kereeennnn.
Lalu, mendengar nama Tere Liye yang tidak asing di telinga penggemar setia novel Indonesia. Siapa Tere Liye? Dia adalah seorang akuntan yang istiqomah menulis novel minimal tiga dalam setahun. Hebat sekali bukan? Dia pun orang kantoran yang pergi pagi pulang sore hari. Tapi ia tetap menulis. Tetap melahirkan karya-karya baru.
Rasanya kita perlu MENCABUT alasan sibuk, bekerja, berorganisasi dalam menulis. Sebenarnya bukan alasan sibuknya, tapi masalah MAU atau TIDAKNYA. Kita sebagai manusia diciptakan dengan waktu yang sama, beban yang sesuai dengan kemampuannya, lantas mengapa selalu SIBUK menjadi kambing hitam dari perhentian menulismu?
Katanya kamu ingin jadi PENULIS?
Katanya kamu ingin sekali menerbitkan minimal SATU BUKU dalam hidupmu?
Katanya dan katanya kamu ingin MENGINSPIRASI ORANG LAIN?
Baiklah, mari kita tunjukan, bahwa kesibukanmu adalah teman setia dalam menulismu. Agar kesibukanmu tidak menghalangi untuk tetap menulis dan berkarya.
Apa saja sih tipsnya? Ini dia …
1. Niatkan Dulu Yuk
Niat adalah modal itu seorang penulis. Dengan niat, kita akan termotivasi untuk menulis. Dengan niat pula, ada dorongan-dorongan yang akan membantu untuk konsisten menulis. Ketika niat untuk menulis sangat kuat, tentu akan mempermudah kita menulis dengan baik, sekalipun kita SIBUK.
Ya, kita SIBUK, namun bukan berarti niat tidak bisa menjadi solusi bagi kita yang ingin menulis dengan kesibukan yang amat padat. Niat menjadi pondasi yang kokoh untuk terus bangun dari segala halang rintangan yang akan merubuhkan bangunan niat kita.
Selain itu dengan niat, kita akan mampu kembali ke posisi awal ketika halangan benar-benar sangat dashyat. Kesibukan sangat banyak dalam organisasi, perusahaan atau bisnis misalnya, dengan niat yang telah tertata, ia bisa sewaktu-waktu kembali mengingat akan niat awal.
Inilah posisi niat bagi orang yang SIBUK, yakni menjadi benteng awal dan akhir seseorang yang benar-benar ingin menulis sekalipun kesibukan melandanya.
2. Tur Atur Mengatur Jadwalne Biar Teratur Tho
Niat saja tidak cukup, sesibuk apapun kita, baik dalam pekerjaan, organisasi, tugas kuliah maupun bisnis bukan menjadi alasan untuk tidak menulis dan tidak menyempatkan mengatur jadwal. Sebab mengatur jadwal bisa membantu kita teringat menulis. Sebagai manusia, wajar seringkali kita lupa dengan cita-cita karena saking sibuknya pekerjaan tersebut. Akhirnya kita melupakan niatan untuk menulis.
Jadwal sangat berperan membantu kegiatan menulis sekalipun kesibukan melanda. Sebab dengan jadwal kita bisa teringat dan menyesuaikan waktu untuk memenuhi janji pada jadwal tersebut. Memang, hidup ini rasanya nggak enak jika di jadwalkan, namun untuk menulis, timbanglah baik-baik, ada baiknya jika kita mengatur kapan seharusnya kita menulis. Demi impian dan cita-cita kita seumur hidup.
Menulis sendiri bisa kita jadwalkan sesuka hati. Jika tidak terlalu sibuk, kita bisa agendakan sehari, per dua hari sekali atau seminggu satu tulisan. Jika tidak bisa juga bolehkan satu bulan satu tulisan. Masa sih nggak bisa kalau satu bulan satu tulisan?
Bener-bener sibuk sampai sebulan pun nggak bisa menulis? Yaa ampun….
Oke baiklah, kamu adalah orang SIBUK. Sekarang saya share membuat jadwal menulis yang boleh juga kamu sesuaikan. Kamu boleh mengisi dan membuat kolomnya sendiri.
Silahkan isi kolom dibawah ini.
Kesibukan
Solusi
Jika saya  sibuk bekerja
Jika saya sibuk organisasi
Jika saya sibuk study
Menyempatkan menulis ketika sibuk bekerja kapan?
Menyempatkan menulis ketika sibuk organisasi kapan?
Menyempatkan menulis ketika sibuk study kapan?
……
…….
….
………………..
……………….
……………….
……
…….
….
………………..
……………….
……………….
……
…….
….
………………..
……………….
……………….
……
…….
….
………………..
……………….
……………….
……
…….
….
………………..
……………….
……………….
……
…….
….
………………..
……………….
……………….
Jam Terbang Menulisku
Hari ke -1
……………………… menit
Hari ke -2
……………………… menit
Hari ke -3
……………………… menit
Hari ke-4
……………………… menit
Hari ke-5
……………………… menit
Hari ke -6
……………………… menit
Hari ke -7
……………………… menit
Hari ke -8
……………………… menit
Dan Seterusnya
Waktu Khusus Menulis
Agenda
Kapan?
Menulis Harian
…………………………………………………………
Menulis Mingguan
…………………………………………………………
Menulis Bulanan
…………………………………………………………

Betapapun sibuknya, selalu ada jalan keluar jika kita mau ‘melakukannya’. Masalah yang hadir tidak mungkin tak ada solusinya. Toh kita terlahir sebagai hamba yang diberikan akal sebagai pemecah masalah, bukan? Sebab dengan akal kita mampu berpikir dan belajar.
Keinginan menulis yang kuat, sekalipun ia benar-benar sibuk, bukan berarti tidak sama sekali mempunyai kesempatan untuk menulis. Selalu ada jalan di sulitnya masalah. Sedangkan Allah subhanahu wata’alatidak membebani hamba-Nya melainkan dengan batas kemampuannya.
Memang akan banyak waktu yang terkuras, tapi nikmatilah… sebab dengan menulis kita akan merasa lega. Sebab, sibuk kita akan terobati dengan tulisan. Bahkan, kesibukanmu dan segala uneg-unegmu bisa kok ditulis. Asalkan ‘mau’.
Silakan kamu buat jadwal waktu luang untuk menulis. Pesan saya, SE-GE-RA, sebelum LUPA dengan kesibukan kamu. Hehehehe.
3. Atur Jam Terbang Yuk
Oke, saya sudah membuat jadwal. Sekarang apa lagi? Masalah penulis pemula adalah ‘lama’ sekali menulis. Membuang-buang waktu saja di depan komputer tetapi tidak satu atau dua patah kata pun yang terketik. Bahkan, dikalangan orang SIBUK, meski sudah satu jam di depan komputer, hanya satu paragraf atau satu halaman saja. Hmmm…. membuang-buang waktu saja kalau begini. Mending mengerjakan hal lain saja.
EIITTTSSS… tunggu dulu donk, jangan terburu-buru memutuskan sesuatu. Yuk kita cari solusinya. Masalah yang kamu hadapi diatas bukan berarti tidak ada solusinya. Saya pun pernah kok mengalaminya tapi bukan berarti tidak ada solusi sama sekali.
Begini, langkah selanjutnya adalah jam terbang. Saya mulai dengan sebuah pertanyaan.
Sekarang dalam satu halaman A4 microsoft word berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menulis? Ya, saya tahu, kamu adalah orang sibuk yang harus mengefisienkan waktu. Coba dijawab. Setelah ketemu dengan jawabannya. Sekarang catat perolehan waktu yang kamu butuhkan untuk menulis satu halaman saja.
Setelah mencatatnya, karena kamu orang sibuk, silahkan menambah kecepatan menulisnya. Di percobaan kedua kamu harus lebih cepat menggunakan waktu ketika menulis. Hingga sampai kamu mentok di menit tercepat dan tidak bisa lagi mengurangi menit tersebut. Sebab ini sangat berguna bagi kamu yang merasa sibuk tetapi ingin tetap menulis.
Perhatikan kolom dibawah ini :
Kolom diatas bisa membantumu melatih skill jam terbang menulis. Selamat mencba dan SE-GE-RA praktek.
4. Waktu Spesial Untukmu, Duhai Waktu Menulisku
Saya SIBUK dan saya tidak punya banyak waktu untuk menulis. Akan tetapi, saya ingin sekali menulis? Bagaimana dengan masalah saya ini? Apa yang harus saya lakukan?
Saya sendiri mempunyai kesibukan bekerja, bisnis membantu orang tua tetapi tetap menulis. Bagaimana bisa? Tentu bisa, asal ada kemauan yang kuat sebagai jawabannya.
Untuk mengatasi ini, saya sendiri menentukan waktu khusus untuk menulis. Saya SIBUK bekerja, bisnis dan membantu orang tua di rumah dari pagi sampai sore, nah malamnya saya gunakan waktu untuk menulis. Bahkan, saya merencanakan waktu menulis di sepertiga malam sehabis qiyamul lail.
Kamu pun bisa mencobanya seiiring menyesuaikan dengan jadwal dan KESIBUKAN kamu. Silahkan pilih-pilih, atur-atur dan nulis-nulis.
Perhatikan tabel berikut ini :
5. Mengatur Aktifitas! Kenapa Nggak?
Haduh CAPEK, seharian saya sibuk bekerja, organisasi dan saya sibuk tugas sekolah-sekolah atau kampus yang banyak, mana guru-guru dan dosen nggak tanggung-tanggung ngasih tugasnya. Saya LELAH dan CAPEK. Tapi saya pingin deh, menghasilkan satu tulisan atau minimal istiqomah menulis sebulan sekali.
Masih ada solusikah? Saya MINTA donk solusinya….
Baiklah, saya akan berikan tips dan triknya. Kamu sabar dan stay cool saja baca tulisan ini. Heeee….
Cara selanjutnya adalah dengan mengatur aktifitas. Cara ini berhubungan dengan point 1, 2 dan 3. Ini adalah gabungannya. Point ke 4 adalah dengan menggabungkan point-point sebelumnya untuk mencapai cita-cita kita bersama, yakni menulis.
Yuk kita mulai mengatur aktifitas kita selama ini. Mungkin inilah yang akan bisa membantumu tetap bisa menulis walaupun kamu seorang yang sangat SIBUK. Yakin, kamu pasti bisa melakukannya.
6. Menangkap Mahluk ‘Liar’; Ide
Hampir ketika kesibukan melanda diri kita, fokus akan terbuyar dengan rutinitas yang sangat menguras waktu dan tenaga. Kita tidak mungkin membawa komputer atau laptop kemana-mana. Dan ironisnya, ide itu muncul ketika kita tidak berada di depan komputer.
Tips berikutnya adalah mencatat ide. Saya sendiri selalu membawa buku harian yang berguna untuk mencatat dan menuliskan gagasan-gagasan yang saya pikirkan selama menjalankan rutinitas dan kesibukan. Sebab saya adalah seorang yang tidak setiap waktu bisa fokus berada di depan komputer, maka saya mencatat ide yang saya dapatkan ketika menjalani kesibukan saya.
Ide itu liar, kadang dicari belum tentu dapat, ketika tidak dicari justru datang dengan sendirinya. Kadang kala ide datang ketika ngobrol dengan teman atau sahabat, ketika sedang sibuk bekerja, ketika sedang berjalan-jalan dan tempat-tempat yang tidak bisa dipastikan ide itu akan datang dari mana. Nah, mencatat ide adalah solusi dari permasalan tersebut. Dimana kita menuliskan point-point penting dari ide yang kita dapatkan untuk selanjutnya kita tuangkan dalam bentuk tulisan yang menguraikan ide tersebut.
Menulis ide di dalam buku catatan tidak perlu panjang, tulis saja benang merahnya. Tulislah point-point ide yang singkat, padat dan mampu kita uraikan ketika nanti di depan komputer. Catatlah ide yang kamu dapatkan dengan menarik sehingga mampu menumbuhkan semangat menulis ketika di depan komputer nanti.
Asep Awaludin memberikan saran kepada kita,
“Dengan mencatat ide, Anda satu langkah akan lebih mudah untuk menulis. kalaupun anda tidak ada waktu untuk menulis, ide-ide ini bisa anda simpan dalam buku pribadi anda. Setelah anda punya waktu luang, baru anda tuangkan ide itu dalam tulisan.”
Oke, praktek selanjutnya adalah mencatat setiap ide dengan menarik setelah mendapatan ide tersebut agar ide yang kita dapatkan mampu memberikan semangat dan motivasi menulis ketia berada di depan komputer nanti.
7. Istiqomah
Kesibukan memang tidak terjadwal dan tidak serta merta begitu saja, kadang ada turun naiknya. Ya, menyusun jadwal pun rasanya kadang berhasil kadang tidak. Tapi apa salahnya? Mengatur jadwal tidak akan membuat kita menyesal, justru sebaliknya. Kita akan lebih bisa menghargai waktu dengan baik, bukan?
Selanjutnya adalah istiqomah. Ya, tetap menancapkan tekad terbaikmu meski rapuh. Berusaha semaksimal mungkin agar jadwal yang kita rencanakan tidak sia-sia dan bisa berjalan dengan baik.
Istiqomah dalam menulis, sebab inilah benteng terakhir di kala sibuk. Ketika ia sudah terbiasa dengan jadwal yang ia buat, ia akan merasa kehilangan jika tidak mengerjakan hal yang biasa ia lakukan. Rutinkanlah selama sebulan untuk menulis tiap harinya, maka mudah-mudahan itu akan menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.
***
Itulah 7 tips yang saya utarakan pada tulisan inti. Saya maklum, kita adalah orang yang SIBUK, maka pastikan kita selalu menguatkan niat di awal-awal sebagai seorang penulis lalu selalu menyediakan waktu luang, mengatur jam terbang menulis, mengatur jadwal, memilih waktu khusus, dan terus istiqomah. Jangan lupa SE-GE-RA pratek ya. Semoga kita semua berhasil mencapai mimpi kita yang satu ini, menjadi penulis. Aamiin.
***

Wildan Fuady (Mentor PKW Nasional)



SAAT BULAN MENGANTAR MALAM

0

Oleh : Dewi Mustika Rahayu (Mahasiswa Program Keahlian Komunikasi Diploma IPB Angkatan 51)

            Bulan telah datang bersama malam. Pagi dan siang sudah pergi semenjak tadi. Tapi perempuan itu masih setia duduk di sudut sebuah masjid, meski acara liqo yang ia ikuti berakhir beberapa jam yang lalu.
            Perempuan itu hanya mengingat kumandang adzan maghrib, yang mengantar sesosok lelaki bertubuh tegap ke masjid tempatnya kini tengah berdiam.
            Setiap hari perempuan itu selalu menemukan sesosok lelaki bertubuh tegap, dengan wajah tenang, tengah melepaskan sepatunya di pelataran masjid. Lantas sosok itu menghilang, untuk kemudian muncul kembali, dengan rupa yang berbeda. Buliran air yang menetes turun dari kening si lelaki, bahkan lengan kemejanya yang terlipat hingga ke siku, rambut cepaknya yang basah oleh bekas wudu. Semuanya seolah menyulap si lelaki berwajah tenang menjadi sosok imam idaman.
            Perempuan yang sedang duduk di sudut teras masjid itu tersipu.
            Entah. Mungkin sejak hari itu semuanya bermula. Karena kagum bisa jadi alasan kenapa hati yang tadinya sepi mendadak suka berpuisi. Bahkan segala sesuatu yang awalnya biasa, kini terasa drama dan berbau romansa.
           
            “Jatuh cinta itu bukan dosa.” Kata murobbinya sore tadi.
            Si perempuan mengangguk-angguk setuju. Kemudian muncul sekilas bayangan lelaki berwajah tenang. Lantas bibirnya tersenyum malu-malu.
            “Dosa itu apa?” kali ini sang murobbi bertanya. Membuat peserta liqo yang beranggotakan lima orang mahasiswi itu saling berpandangan. Ingin menjawab tapi hanya lemparan lirik yang bisa diisyaratkan.
            “Dosa adalah hal yang menyebabkan hati bimbang dan cemas, meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.”[1]
            Si perempuan merenungi kata-kata sang murobbi, sebelum akhirnya acara liqo yang diadakan setiap dua kali seminggu itu ditutup dengan doa. Kemudian petang hadir menyapa, menjadi latar masjid kampus yang kini hanya berisikan beberapa orang mahasiswa.

            Katanya, sesuatu yang datang terburu-buru itu tidak baik. Katanya pula, sesuatu yang diburu-buru itu hasilnya sebagian besar mengecewakan. Betulkah? Mengapa?
Mungkin karena orang yang buru-buru dan memburu itu lupa kalau segala sesuatu ada waktunya. Ada saatnya ia perlu berkenalan dengan sabar. Ada pula ketika ia butuh untuk memeluk erat ikhlas.            
            Sore ini, seorang perempuan berjilbab hendak mendatangi masjid kampus layaknya hari-hari yang telah berlalu. Meski tak ada jadwal liqo, kakinya tetap melangkah riang menapaki jalanan yang dipagari pepohonan rindang. Sementara belum separuh jalan ditempuhnya. Mata perempuan itu membulat indah, mengikuti satu sosok yang sudah lama ia puja dalam diam.
            Seorang lelaki bertubuh tegap dan berwajah tenang berdiri beberapa blok dari tempatnya. Dengan tas ransel hitam dan kaus berkerah, sosok itu diam di depan gedung sebuah fakultas yang terlihat sepi.
            Perempuan itu lantas memperlambat laju sepatu miliknya. Entah keinginan darimana yang muncul secara tiba-tiba. Ia ingin mengamati lelaki tanpa nama itu dengan lebih seksama. Memperhatikan setiap inci gerakan si lelaki yang membuat hatinya serasa ditarik hingga jatuh ke sebuah ruang bernama cinta.
            Jatuh cinta itu bukan dosa. Si perempuan meyakinkan dirinya sendiri. Masih dengan tatapan memuja sesosok lelaki yang tak pernah dia sapa maupun menyapanya.
            Hanya beberapa menit saja si perempuan bisa memastikan hatinya masih baik-baik saja, sebelum akhirnya sosok lelaki yang berdiri tak jauh darinya pergi.
            Bukan. Bukan pergi yang membuatnya luka, melainkan sosok perempuan lain yang muncul secara tiba-tiba. Lelaki itu tampak bersorak ketika seorang perempuan berambut panjang datang menghampirinya. Si lelaki mengacak-acak rambut wanita di sebelahnya mesra, kemudian pergi bersama, bergandengan tangan. Mereka tampak gembira, tanpa tahu ada seorang perempuan lain yang sedari tadi hanya bisa membisu, dengan segala angan yang sudah tak terukur berapa mili panjangnya.
            Perempuan berjilbab itu mungkin terlihat masih berdiri tegak di tepian jalan.
            Namun tidak dengan batinnya.
            Hanya ia yang tahu. Betapa menyedihkan kekaguman yang sudah ditenunnya dengan sukacita itu kini berakhir tanpa rupa. Tanpa pernah terpintal sempurna. Tak menghasilkan apa-apa, selain rasa hampa yang kini bergumpal-gumpal memenuhi hatinya. Bak air keruh yang pekat dan pahit.
           
            Bulan kembali datang mengantar petang. Sore telah beranjak pergi menyusul siang dan pagi.
            Tak ada yang lebih merdu dari suara muadzin yang menyerukan kalimat kemenangan; “Hayya ‘alal-falaah!”
            Perempuan itu berjalan dengan langkah lambat. Seolah mencari tempat yang bisa dijadikannya perhentian.
            Jika dosa adalah hal yang menyebabkan hati bimbang dan cemas. Maka ia takut kalau-kalau rasa yang pernah mampir di hatinya telah membuat setitik noda, yang kian lama kian melebar menjadi dosa.
            Perempuan itu mendadak menggigil karena menyadari sesuatu. Jatuh cinta itu bukan dosa. Memang bukan! Ujarnya dalam hati. Tapi ia bisa menjadi noda jika tak kau jaga dengan pemahaman agama!
            Perempuan itu menangis. Tanpa tahu apa yang telah membuatnya menangis. Mungkin ia kini mengerti, bahwa banyak hal yang sudah sepatutnya ia paham dan renungi, termasuk urusan hati. Bahwa pengharapan yang tak disandarkan pada Sang Maha Kekal adalah awal mula kekecewaan.
            Bulan tampak tenang bersisian dengan malam.
            Sepatu perempuan itu kembali menapaki jalan yang berpagar pepohonan. Ia meneruskan langkahnya yang tadi sempat terhenti. Tujuannya adalah tempat yang sama seperti hari-hari lalu. Namun bukan lagi pertemuan dengan seseorang yang ia cari, melainkan hal lain yang akan membuat hatinya merasa terobati.
            Perempuan itu pergi.
            Ia ingin sekali menempelkan keningnya di atas rumah Ilahi.
            Karena dirinya kini sudah tak begitu peduli, dengan hal yang tak bisa dibawanya mati.



[1] HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al Baihaqi

Sami’na Wa Ato’na (Sincerely, Fatih)

0


Oleh : Alfiah Nur Hadist (Mahasiswa Program Keahlian Supervisor Jaminan Mutu Pangan Diploma IPB Angkatan 51)

Mashaa Allah.. Senyumannya, gumamku dalam hati.
“iya, jadi Magnolia warbler itu jenis burung yang memilih pasangan dengan cara memilih suara jantan yang terindah,” Fatimah menjelaskan dengan nada riang.
“Oh gitu, jadi betinanya selektif juga ya,” balasku dengan wajah ceria.
Angin yang bertiup dari cela jendela menambah kesan damai dan sunyi ruang kelas yang saat itu hanya dihuni kami berdua, Aku dan Fatimah. Langit seakan merayu kami untuk tidak terjaga sore itu. Berbagai strategi kami siasati agar tidak tertidur di ruangan ini. Iya, kami tidak boleh tertidur karena tiga hari lagi olimpiade biologi akan terselenggarakan. Namun, pada akhirnya olimpiade ini tidak hanya berkesan pengalaman belajar untuk berlomba tetapi juga meninggalkan kenangan manis untuk hidupku.
Begini ceritanya.
Oh iya, sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Fatih Abdullah, teman-temanku selalu memanggilku Fatih, tetapi tidak sering mereka memanggilku Abdul. Sekarang aku sedang menjalani studi di suatu perguruan tinggi negeri di Bogor jurusan Biologi.
Aku merupakan lelaki yang tak mudah jatuh cinta. Jujur saja sampai saat ini perempuan yang pernah ku cintai selain ibuku, adikku, dan nenekku, hanya dua orang yaitu Indri teman SDku dan Fatimah. Cerita ini bukan hanya sekedar cerita cinta anak-anak remaja pada umumnya, ceritaku ini berbeda.
Kala itu bus sekolah bergoyang ke kanan dan kiri menggoncang setiap makhluk yang ada di dalamnya. Temanku, Risky dan Surya mereka malah asik bermain tebak-tebakan rumus matematika, mereka tidak menyadari manusia di samping mereka sudah membiru berkat goyangan heboh bus ini. Mulut dan hidungku sedang kritis menahan bau dan rasa ingin muntah karena si lambung yang sedang giat memproduksi asam. Akhirnya Risky sadar, aku merasa bebanku akan diringankan.
“Kamu kenapa, Fatih? Kamu mabok?,” Ucap Risky dengan suara agak keras. Pertolongannya yang kukira membantu malah membuatku semakin malu.
“Aah Cuma pusing aja kok,”
“iih serius Fat, tanganmu udah dingin loh?,” Jelas Surya, yang malah memperkeruh harapanku untuk mengabaikan rasa mabukku.
Seketika suara perempuan yang berasal dari bangku di depanku akhirnya menanggapi kekisruhan ini.
“Kamu pusing, Fat? nih aku ada minyak kayu putih, siapa tahu membantu. Kalo pusingnya susah hilang, coba bayangkan yang kamu senangi saja, seperti naik mobil tanpa atap mungkin, hehe,” Fatimah berbicara sambil tersenyum dan menyodorkan tangan yang sedang memegang minyak kayu putih.
Tuh kan, lagi-lagi senyuman itu menyejukkanku.
Rombongan kami pun sampai di tempat olimpiade berlangsung. Antrian masuk sudah berbanjar meliuk seperti ular yang ingin masuk ke sarangnya. Aku yang masih agak terhuyung mabuk segera mendaftar ulang dan masuk ke ruang ujian. Ujian pun berlangsung dengan lancar, tetapi untuk hasilnya aku serahkan seluruhnya kepada Allah.
Setahun telah berlalu dengan cepat, saat ini aktifitasku yang terpenting hanya makan, tidur, beribadah (termasuk liqo, dsb), latihan taekwondo dan belajar karena seminggu lagi ujian nasional yang menghabiskan 70% energi di otakku.
Ujian nasional pun usai. Usainya ujian dapat ku analogikan seperti jantung yang dapat berdetak kembali, meletus membuat muncratan bagai kembang api, dan terbebas dari berbagai belenggu nurani. Walaupun waktu telah menyelesaikan segala urusanku begitu saja, masih ada sumbatan kecil yang tak mampu kulepaskan dari jantungku. Sepanjang malam kupikirkan hal itu.
“Fatimah, kamu besok mau ke perpustakaan Smart ngga? Aku mau sekalian ngembaliin buku,” Ku sms Fatimah. Mungkin ini sering dikatakan anak-anak modern jaman sekarang sebagai ‘m o d u s’.
“Hhm, pengen sih tapi aku sama Lia mau pergi makan bareng,”
Yah, sirna sudah harapanku.
Keesokan harinya aku pergi ke sekolah menemui teman-temanku, Surya dan Risky. Mereka memang teman yang selalu berbagi denganku. Lebih tepatnya berbagi anime. Tak kukira, ternyata Fatimah hari itu juga datang ke sekolah tapi dengan wajah yang cemberut.
“Loh kok kamu ngga pergi sama Lia?,” tanyaku sambil memainkan game di Hp Surya, berpura-pura agak dingin.
“Hhm, kamu pengen aku pergi ternyata!,” Jawabnya
“Eeh bukan, maksudku kenapa kok kamu cemberut?,” seketika aku salah tingkah dan membanting setir pertanyaanku.
“Hari ini Lia ngga bisa pergi makan bareng, jadi aku sia-sia datang ke sekolah. Kamu jadi ke perpus Smart, Fat?,”
“Hhm jadi, emang kamu mau ikut?,” Lagi-lagi aku berusaha menahan ekspresiku. Risky dan Surya sedang cengengesan menunggu waktu yang tepat untuk ngecengin aku.
“Hayoo, aku juga masih ada buku yang belum dikembalikan.” Jawab Fatimah.
Kami pun pergi ke perpustakaan. Risky dan Surya melayangkan cengan mereka yang sedari tadi dibidiknya. “CIEEEEE”
Diperpustakaan, sangat sedikit kami berbicara satu sama lain. Akhirnya kami pulang. Awalnya kupikir ini waktu yang tepat untuk memberitahukannya perasaan ku tetapi hari ini begitu dingin. Sewaktu di jalan, kami malah bertambah akrab dan banyak melakukan perbincangan. Fatimah bercerita tentang ibunya yang dulu punya banyak pacar, tidak seperti dirinya yang tidak pernah.
“Emang kamu mau pacaran juga Fat?” Tanyaku. Karena kami memiliki nama panggilan yang sama, aku merasa seperti menanyakannya kepada diriku sendiri.
“Hhm, aku masih ngga tau, kalo kamu?”
“Aku mau kalo sama kamu.” Tanyaku. Aduh, bodohnya aku.
“Haha.. aku pikir kamu bingung jawabnya, ternyata cepet banget. Kamu sugoi (hebat) ya bercandanya.”
“Aku lagi ngga bercanda kok, Fat. Kamu mau ngga?” Aku semakin meyakinkan pertanyaanku.
  “Hhhm.. pacaran ya? Bukannya pacaran itu dosa? Selama ini aku memiliki kesan, kalau orang pacaran itu tidak baik.” Jawabnya dengan nada perlahan.
“Oh gitu, gimana kalo kita ubah namanya jadi bukan pacaran tapi kontrak. Kaya yang di anime Chuunibyou, mereka dekat tapi ngga pernah sentuhan ataupun ngomong kaya orang pacaran jadi terkesan seperti sahabatan. Ya walau perasaan mereka lebih dari sahabat.” Jawabku memberi solusi.
“Hhm oke, teman kontrak”.
Aaaaaa, lega rasanya hati ini. Seketika bunga-bunga merah muda dan jingga bertaburan ke arah wajahku. Angin pun berusaha meniupkannya semakin lembut. Ya, Walaupun hanya seperti sahabat, tapi aku sangat senang. Aku akan selalu   berusaha untuk menjadi sahabat yang bisa dibanggakan. Ganbarre-kudasai!
Kami menjalani hari-hari dengan selalu berkomunikasi satu sama lain. Makan bersama, nonton film, nonton anime, belajar bermain gitar di pinggir danau, bercerita-cerita apapun, dsb. Semua itu ku rasakan sangat nyaman sampai suatu ketika aku bertanya pada murabbi-ku.
“Kak kalo kita dekat sama akhwat, tapi kita ngga pernah sentuhan atau pun ngomong kaya pacaran, itu gimana ya kak?” Tanyaku penasaran. Ku pikir lebih baik ku tanyakan dari pada tidak tahu sama sekali.
“Dekatnya seperti apa? Sesungguhnya jika ikhwan dan akhwat yang bukan mahramnya berduaan tanpa ada mahram si akhwat tersebut, itu namanya khalwat dan hukumnya haram. Memang semua itu awalnya kita anggap biasa saja dan bukan hal yang serius. Tapi tahukah kalian? Bahwasannya neraka itu dipagari syahwat dan kesenangan sedangkan surga dikelilingi hal-hal yang tidak disukai (HR. Bukhari). Semua hal-hal kecil yang salah jika disepelekan akan semakin menggunung dan akan menimbulkan yang namanya fenomena gunung es. Zina dikira Cuma berasal dari hal yang tiba-tiba terlaksana, bukan! sebenarnya zina berasal dari berdua-duan, berkomunikasi terus menerus yang sebenarnya kurang penting. Bahkan rasulallah pernah berkata, ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seseorang wanita yang tidak halal baginya (HR. Ath-thabrani) sebegitunya rasul memberi peringatan waspada bagi umatnya untuk menjauhi zina ” Jawabnya.
Oh begitu. Sesak memang mendengarnya tetapi aku mau tidak mau harus mendengarnya. Iya mentoring ini hampir tidak pernah sama sekali memberi hal yang buruk bagiku. Setiap keluhanku selalu dijawabnya dengan merujuk Al-Qur’an dan Hadits. Nasehat-nasehatnya bukanlah omong kosong yang tiada arti. Tetapi apa aku mampu mengakhiri ini semua? Dan bagaimana caranya?. Ku pikir Fatimah juga telah menyakan hal ini kepada murabbi-nya.
Keesokan harinya merupakan pengumuman SNMPTN. Tak sabar aku ingin menanyakan hasil SNMPTN Fatimah. Yang ku tahu ia memilih prodi yang cukup sulit.
“Assalamualaykum, gimana Fat Kabar SNMPTN kamu? Sehat?” Tanyaku melalui sms.
“Hhm.. Alhamdulillah, Fat. Tidak diterima. Walaupun agak sedih tapi ya mau bagaimana lagi. Kamu gimana, Fat? Wah pasti kamu diterima, secaraa nilai UN biologi kamu 9,5 tertinggi satu sekolah.”
“Iya Alhamdulillahirabbil’alamiin. Diterima, Fat. Kamu sih kenapa ngga milih Biologi aja, pasti kamu bakal diterima juga.” Jawabku mencoba untuk menghibur.
“Belum tentu, Fat. Allah kan sudah menentukan jalan setiap hamba-Nya. Kamu memang hebat di bidang Biologi dan Allah mungkin berencana membuat diri kamu semakin baik di bidang itu. Allah suka ketika kamu berusaha dengan belajar dan mengagungkan kekuasaan-Nya ketika kamu belajar Biologi. Sedangkan aku, mungkin itu bukan jalan yang terbaik. Itu bukan hadiah yang pantas untukku dan bukan pula ujian yang akan mampu aku kuasai. Mungkin saja kalau aku masuk sana, aku akan menjadi sombong atau kufur nikmat. Naudzubillah. Jadi semangat ya, anak IPB, hhehe” Di jawabannya tersurat kata-kata riang nan penuh motivasi sekaligus tersirat hati yang sedih.
“Oke siap, Fat. Kamu juga semangat ya. Aku yakin Allah juga sayang sama kamu.” Jawabku.
Keesokan harinya aku mengantar teman liqoku, Wahyu menemui temannya. Kebetulan temannya adalah temanku juga saat SMP. Teman SMPku ini wanita-wanita yang sekarang telah menjelma sebagai wanita solehah berkerudung panjang. Iya begitulah kelihatannya. Kami sedikit berbincang-bincang masalah agenda kegiatan organisasi temanku dan cerita-cerita hidup yang telah kami lalui.
“Gimana kabarnya, Fat? Sudah lama tidak betemu.” Tanya Rina, seorang gadis berkulit putih yang dulunya ku kenal sebagai gadis berkulit cokelat.
“Iya, Alhamdulillah luar biasa. Kamu gimana?” Jawabku.
“Ehem.. sebenarnya Fatih lagi patah hati, haha. Sedang dilema memilih tetap dekat dengan wanita yang ia cintai atau memilih menjauhinya.” Wahyu memotong dengan nada meledek. Akupun mendelik melihat ke arahnya.
“Oh.. aku Alhamdulillah baik. Wah ternyata Fatih ini perkembangannya pesat juga ya. Wanita yang kamu dekati itu baik? Bagaimana agamanya, Fat?” Pertanyaan ini membuat diriku semakin ‘gagal move on’
“Iya baik, Rin. Cerdas, agamanya bagus, baik, manis apa lagi senyumannya. Itu kata Fatih waktu itu.” Jawab Wahyu yang semakin membuatku malu.
“Iya kurang lebih begitu, Rin” Jawabku. Aku tidak sanggup mendeskripsikannya lebih jauh.
“Oh, begitu. Kedengarannya baik. Tapi menurutku, kalau kamu mecintai seseorang maka datangilah walinya. Kalau kamu tidak sanggup, maka jauhilah.” Rina menjawab dengan nada tegas. Jawabannya semakin menundukkan harapanku tentang Fatimah.
Kami berdua pun pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku memikirkan cara yang terbaik untuk aku, Fatimah dan tentunya untuk agamaku. Aku berencana untuk bertemu dengan Fatimah besok sore, mungkin dapat ku siasati sambil makan es krim agar tidak terkesan terlalu serius.
“Loh kok kamu rapih banget sama bawa tas besar? Mau kemana, Fat?” Tanyaku ketika melihat Fatimah datang dengan tas besar dipunggungnya.
“Hhm. Aku mau pergi, Fat ke rumah nenekku di Batam.”
“Oh mau berkunjung ke nenek kamu?”
“Engga,  aku mau tinggal disana sekaligus kuliah, InsyaAllah. Nenekku sudah tua jadi aku disuruh mamaku untuk menemaninya.” Jawabannya membuat jantungku berhenti berdetak untuk sesaat. Itu artinya ini mungkin menjadi kali terakhir aku bertemu Fatimah. Batam itu jauh dari Bogor.
Kami pun membeli es krim tetapi kali ini Fatimah memaksa untuk membayar dengan uangnya. Ia bilang ini sebagai balasan karena aku sering mentraktirnya. Kami segera memulai pembicaraan kami. Ku ceritakan semua tentang murabbi, teman SMPku, dan lain sebagainya. Fatimah pun semakin menampakan wajah mengertinya dan tersenyum.
“Oh begitu, di tempat liqoku malah katanya memakai emoticon untuk berkomunikasi dengan ikhwan dinilai tidak ahsan, Fat.” Fatimah menanggapi.
“Tuh kan, kamu ternyata udah banyak berubah. Aku ingin menjaga kamu, Fat. Bukan menjaga kamu dari orang lain, justru aku ingin menjaga kamu dari diri aku sendiri. Oh iya, kalau kamu suka sama seseorang lihat agamanya ya, Fat. Aku yakin kamu pasti berjodoh dengan orang baik-baik pula karena kamu bisa memilihnya. Kamu inget ngga, Fat? Waktu persiapan olimpiade Biologi dulu, kamu mengajari aku perilaku hewan burung Magnolia warbler yang selalu memilih jantan dengan kicauan terbaik, kamu ibarat burung itu, Fat.” Jawabku
“Haha, iya mungkin hampir sama, tapi aku bukan hanya memilih kicauannya. Aku juga mau memilih kemampuan navigasinya. Burung pejantan mana yang mampu membawaku ke arah yang benar.” Jawabnya dengan nada ceria.
Sugoi desu-ne, Masha Allah, hebat kamu ya. Oh iya, kamu pergi jam berapa nanti? Aku anterin ya ke sana?”
“Jadwal terbangnya jam 7 malam ini. Wah aku harus ke DAMRI jam 5 nih. Hhm Ngga usah, Fat. Aku mau dianterin Bapak aku. Jadi it’s gonna be fine, just relax, hhehe.” Fatimah beranjak dari tempat duduknya dan berdiri menunggu angkot. Terlihat kuat, mandiri, dan memiliki pendirian yang teguh. Aku tersadar dari lamunanku ketika Fatimah mengatakan angkotnya sudah dekat.
“Oh iya, Fat. Jangan pernah memendekkan kerudungmu yah.” Aku berteriak sambil melambaikan tanganku. Fatimah pun mengacungkan jempolnya.
Motorku segera kunyalakan segera ketika mobil yang dinaiki Fatimah sudah tidak terlihat lagi. Perjalanan pulang bagiku saat ini berlangsung sangat lama. Kendaraan yang berjalan disampingku seakan terhenti seluruhnya oleh sebuah mesin waktu bernamakan memori. Memori ini apakah pantas aku pikirkan? Atau lebih baik jika aku tidak memilikinya dari awal?. Tidak! Kupikir hidupku tidak akan berarti tanpa memori ini yang mengajarkanku memilih keputusan dengan bijaksana. Allah ingin menjadikanku nyaman dengan agama-Nya, menjadikanku memiliki sifat kreatif untuk menyelesaikan ujian-Nya. Apa jadinya aku ketika Allah memberiku ujian dengan wanita yang tidak baik? Atau apa jadinya aku ketika masalah ini berlangsung tak ada supply energi bernamakan mentoring dan sahabat-sahabat yang memberi nasihat kebaikan? Sungguh cerita ini ada berkat pertolongan Allah Yang Maha Penyayang. Tak sadar ternyata aku senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan.
Aku hanya ingin berpesan, Jangan pernah banyak berkomentar, jika itu perintah Allah. Cukup katakan, “Sami’na wa ato’na” (Aku dengar dan aku taat). Percayalah Allah akan membantu di setiap nafas hamba-Nya yang bertakwa.
Dan aku ingin mengucapkan, “Fatih yang dulu, terima kasih telah menjadi Fatih yang sangat disayangi oleh Fatih saat ini. Fatih saat ini teruslah berkembang agar membanggakan Fatih di masa yang akan datang.”


Sincerely, Fatih

Selasa, 10 Mei 2016

Tiga Pilar Dasar Pergerakan Dakwah

0

#Ghirah_Reminder_23
“Sebuah pantangan bagi kader dakwah,” ujar seorang kawan, “untuk berpikir pesimis. Sebab para kader dakwah seharusnya sudah meyakini bahwa Allah ada dalam setiap langkah mereka. Lalu apa yang seharusnya ditakutkan selain kehilangan Allah karena maksiat?”
Al-Wasilah (sarana) adalah sebuah hal wajib dalam pergerakan. Sarana biasanya diartikan sebagai komponen pelengkap. Ada yang juga mengartikan bahwa sarana adalah ‘pelumas’ bagi satu pergerakan, solver dari setiap permasalahan, dan ‘pelancar’ dalam setiap aktivitas.
Dalam proses belajar mengajar, seorang dosen memerlukan papan tulis agar materi sampai kepada mahasiswanya. Namun terkadang papan tulis saja tidak cukup. Dosen mesti mempersiapkan peraga lain seperti powerpoint, latihan soal, dlsb, dengan tujuan agar para mahasiswa paham dengan apa yg disampaikan.
Pada kasus ini, papan tulis, ppt, dan latihan soal merupakan sarana.
Lalu pertanyaannya, bagaimana dalam konteks pergerakan dakwah?
Suatu pergerakan dakwah MESTI menganut tiga pilar dasar sebagai sarana mereka dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah dirancang.
1. Manhaj yang benar
Bahwa perjuangan dakwah harus menerapkan apa yg tertera dalam kitabullah, Sunnah Rasulullah, dan ahkamil islam secara penuh tanpa pengurangan. Manhaj ini harus bersih, segar, dan jauh dari hal2 yang diada2kan.
Sebuah pergerakan dakwah harus menganut pemahaman Islam secara Syamil wa Mutakammil.
2. Aktivis yang beriman
Sudah sewajarnya para aktivis dakwah merupakan orang yg beriman. Ia bukan manusia yg mengenal kelelahan, kelembekan, dn gemar memendam kekecewaan di jalan Allah.
Keimanan yg kuat akan menuntun setiap orang untk memegang teguh fikrah mereka, meyakini tujuan mereka, dan mengimani bahwa Allah akan menolong selama tetap bergerak di jalan-Nya.
3. Pemimpin yang tegas dn terpercaya
Sama seperti shaff shalat. Ruku’, sujud, bahkan Qunut harus dilakukan sesuai dengan perintah sang pemimpin selama itu berada dalam koridor ketaatan kepada Allah swt. Sebab dalam satu barisan, ketergabungan dan keterikatan kita mengandung konsekuensi untuk taat pada pemimpin di barisan tersebut.
Maka, peran pemimpin di sini sangat krusial. Ia haruslah menjadi orang yang taat dan paham tentang apa yang ia lakukan, teguh pada pendirian di atas kebaikan, dan langkahnya pasti tanpa mau melirik pada ‘konten-konten’ lain di luar Al-Qur’an, ahkamil islam wa sunnati Rasulillah.
Selama ketiga komponen itu ada, maka selama itu pula sebuah barisan akan tetap eksis di muka peradaban.
Maka, mari ambil posisi. Semoga Allah mengaruniai kita kekuatan dan keteguhan dalam ketaatan kepadanya.
Allahu a’lam
Uhibbukum Fillah,
Andi Fikri

Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah

0

@dwiboediyanto
*Kabid. Pelatihan dan Dakwah PW IKADI Yogyakarta*


Meninggalkan dakwah itu perkara gampang. Kita tinggal sedikit demi sedikit menjauhinya saja. Tidak aktif lagi tanpa pemberitahuan. Tidak merespon saatu dihubungi. Bersikap masa bodoh terhadap aktivasi. Tidak datang saat diundang. Sembunyi ketika dimobilisasi. Intinya, bersikap cuek dan masa bodoh saja. Tenggelamkan dalam aktivitas yang memuaskan diri. Dengan cara demikian lambat laun kita akan meninggalkan (atau barangkali lebih tepat — ditinggalkan dakwah). Gampang sekali. Tapi apa manfaatnya bagi kita mengambil sikap demikian?

Benar, meninggalkan dakwah itu perkara yang mudah. Tapi saya sangat yakin, jauh lebih mudah lagi bagi Allah ta’ala untuk mencari pengganti yang jauh lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk ‘pensiun’ dari dakwah. Para pengganti itu akan menggerakkan dakwah jauh lebih ikhlas dan bersemangat. Ya, sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sangat mudah. Tidak ada sedikit pun kerugian bagi dakwah ketika seseorang resign darinya. Dakwah akan terus berjalan, ada atau pun tanpa kita.

Sekali lagi kita bertanya, apa manfaatnya bagi hidup kita? Dakwah memang tidak memberi tumpukan harta. Bahkan bisa jadi kitalah yang mesti menyisihkan dari yang Allah karuniakan pada kita untuk menggerakkan dakwah. Tapi di sanalah kita menemukan makna yang indah. Kita terlibat dalam dakwah bukan untuk memperoleh harta berlimpah. Kita ingin mendapatkan keridlaan Allah, sehingga dengannya hidup kita bertabur barakah.

Sekiranya kita memilih ‘masa bodoh’ dan resign dari dakwah, sungguh ada satu hal yang dikhawatirkan: dicabutnya barakah dari hidup kita. Direnggutnya rasa qanaah terhadap harta dari diri kita. Tiba-tiba saja kita berubah menjadi orang yang sangat ‘kemaruk’ dan rakus terhadap duniawi, secuil apapun ia. Lalu aktivitas dakwah ditinggalkan. Forum-forum pembinaan mulai diabaikan.

Sebagai gantinya proyek-proyek materi menjadi lebih diutamakan.

Dalam situasi demikian (kadang) seseorang masih merasa berkebajikan. Padahal, yang dilakukannya tidak lebih dari aktivitas remeh yang disesaki oleh hasrat yang besar terhadap uang. Semakin dikejar, rasa puas tak pernah akan terpenuhi. Tiba-tiba juga kebutuhan tak bisa tercukupi, padahal pendapatan lebih banyak dari sebelumnya. Jika hal demikian yang terjadi, alangkah baik, sekiranya kita berhenti sejenak. Menelisik kondisi diri.

Jangan-jangan kebarakahan itu telah dicerabut dari hidup kita. Na’udzubillahi min dzalik.

Setiap saat kita memang perlu menelisik diri. Jika ada benih-benih bergesernya orientasi, mari diluruskan kembali. Saat kelesuan mulai tumbuh, segera pupus dengan semangat beramal. Ketika kejenuhan mulai melanda, perlulah silaturahmi agar ada penyegaran dan suntikan semangat membara.

Memperturutkan kelesuan dan kemalasan beraktivitas dakwah hanya mendatangkan situasi yang semakin berat. Lambat laun seseorang berkemungkinan ‘resign’ tanpa pamitan.

Dalam situasi demikian, ia tidak menyadari bahwa ada yangi berbeda dari cara berpikir, berasa, dan juga bertindak. Mulailah ia bersikap seperti penumpang dan mulai menanggalkan mental seorang sopir (driver) yang bersemangat, pantang menyerah dan berkeluh kesah, berorientasi untuk mencari solusi, dan memilih untuk tidak menghujat serta menghakimi.

Saking mudahnya meninggalkan dakwah, alasan apapun bisa dikemukakan.

Seseorang dapat mengelabuhi murabbi atau qiyadah dakwah dengan alasan yang tampak masuk akal: bisnis, kerja, urusan keluarga, atau apapun (Qs. Al Fath:11 dan Al Ahzab: 13). Tapi sungguh, Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.

Apakah alasan-alasan itu benar adanya, ataukah muncul dari kelemahan diri dan hasrat kuat untuk menghindar dari amanah. Lagi-lagi, kita memang perlu banyak menelisik diri sendiri.

Jika hari-hari ini kita mulai tampak lesu dan tidak bergairah di jalan dakwah, forum-forum pembinaan juga terasa gampang ditinggalkan, kontribusi yang mesti diberikan juga terasa berat ditunaikan, kerinduan bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.

Sungguh, tak ada manfaat yang dapat diperoleh dari meninggalkan dakwah, kecuali hidup yang tercerabut dari memperoleh barakah. Hari-hari ini ketika waktu istirahat bagi sejumlah ikhwah terasa amat singkat, kita sungguh merasa malu. Sebagian kita masih bersantai-santai, bahkan membiarkan diri dalam lalai. Ya, ada banyak di antara kita, termasuk saya, yang lebih butuh nasihat.

Semoga Allah jadikan kita generasi yang Allah kokohkan di jalan dakwah ini, terus kokoh, semakin kokoh hingga husnul khotimah. Aamiin.
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html